Belajar Kesantunan Tutur dari Doa Nabi Adam AS: Sebuah Refleksi
Muhammad Lukman Arifianto, S.S., M.A.
Dosen Departemen Sastra Arab Fakultas Sastra, UM
Pendahuluan
Dalam Islam, kesantunan dalam tutur kata bukan hanya dianggap sebagai bentuk etika sosial, tetapi juga sebagai manifestasi nyata dari akhlak yang baik dan mulia. Islam mengajarkan bahwa tutur kata yang santun
mencerminkan kedalaman iman seseorang serta penghargaan terhadap nilai-nilai kebenaran dan moralitas. Kesantunan ini melibatkan pilihan kata-kata yang baik, cara penyampaian yang lembut, dan niat yang tulus,di mana setiap ucapan tidak hanya di t u j u k a n u n t u k memp e rl a n c a r komunikasi, tetapi juga untuk menciptakan keharmonisan dan kedamaian.
Kesantunan tidak terbatas pada hubungan antarmanusia. Islam menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Allah SWT, sebagai Pencipta, juga harus dilandasi dengan kesantunan dan adab yang tinggi. Dalam setiap doa, dzikir, atau permohonan, seorang hamba diharapkan untuk berbicara kepada Allah SWT dengan penuh kerendahan hati, kesadaran akan kelemahan diri, dan pengakuan atas keagungan Tuhan. Ucapan yang dipenuhi kesantunan kepada Allah mencerminkan kepasrahan total dan kesadaran bahwa manusia bergantung sepenuhnya kepada rahmat-Nya.