Berbuat Baik kepada Sesama dan Memuliakan Ulama
Dr. Abdul Adzim Irsad, LC, M.Pd
Dosen Departemen Sastra Arab Fakultas Sastra, UM
Berbuat Baik Kepada Sesama
Umumnya setiap orang pasti suka ketika mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain atas prestasinya. Namun kadang kala ada orang yang tidak bersedia memuji ataupun menghargai kelebihan kinerja orang lain. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan para ulama mengajarkan agar manusia senantiasa berbuat baik kepada orang lain, karena sesungguhnya kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali pada dirinya. Berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita merupakan hal biasa. Yang luar biasa adalah ketika kita mampu berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti kita. Hal ini dicontohkan Rasulullah SAW. Beliau berdoa untuk kebaikan masyarakat Thaif tidak lama setelah meninggalkan wilayah mereka.
Padahal sebelumnya Rasulullah SAW dicaci maki, diusir, bahkan dilempari bebatuan hingga terluka oleh penduduk Thaif. Sikap mulia ini amat sering beliau lakukan saat disakiti orang lain. Rasulullah SAW merupakan teladan selalu berbuat baik kepada orang-orang yang menyakitinya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Sambunglah persaudaraan dengan orang yang memutusmu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu, dan katakan yang benar meskipun merugikan dirimu sendiri.” (HR. Ibnu an Najjar). Rasulullah SAW tak henti-hentinya disakiti dan dicaci maki oleh Abdullah IbnSalul, salah satu pemimpin kota Yatsrib (yang kelak menjadi Madinah). Beliau bahkan diejek dengan ungkapan ‘bukan orang pribumi’ saat hijrah ke Yatsrib. Meskipun begitu, Rasulullah SAW tidak pernah dendam kepadanya, bahkan ketika Abdullah Ibn Salul meninggal, justru Rasulullah SAW datang bertakziah ke kediamannya. Kebaikan Nabi SAW kepada Abdullah Ibn Salul menjadi catatan orang-orang Yahudi, sehingga banyak dari mereka yang memeluk Islam. Aisyah RA pernah ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW, maka ia menjawab,“Beliau tidak pernah berbuat jahat, tidak berbuat keji, tidak meludah di tempat keramaian, dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, melainkan beliau selalu memaafkan dan memaklumi kesalahan
orang lain.” (HR Ibnu Hibban).
.