Mengenal Islam di Moskow, Rusia
Zaimul Asroor
Dosen STAI Khozin Blora
Pendahuluan
Tulisan ini mencoba mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat Islam di Moskow, Rusia. Baik dilihat dari perkembangan dan dinamika di dalamnya dari era Uni Soviet sampai era modern. Adapun rujukan utama tulisan ini berasal dari buku “Rusia and Islam: State, Society and Radicalism” yang diedit oleh Roland Dannreuther dan Luke March. Setidaknya ada sekitar 15 hingga 20 juta orang Rusia yang beragama Islam lebih dari sepuluh persen dari populasi. Islam juga menjadi agama yang paling banyak dianut kedua di Rusia. Meski demikian, studi tentang keislaman di Rusia, khususnya Ibukotanya, Moskow, jarang dilirik. Kebanyak peneliti lebih berkonsentrasi pada komunitas di Kaukasus Utara, Volga-Ural, atau pada hubungan Rusia dengan dunia Muslim. Moskow juga lebih sering dilihatsebagian kota dengan etnis Rusia yang beragama Kristen. Namun, perlu diketahui bahwa beberapa komunitas Muslim diperkirakan sudah tinggal di Moskow setidaknya selama enam abad. Pasca-Soviet runtuh pada 26 Desember 1991, gelombang migrasi orang-orang Islam ke Rusia membuat jumlah mereka naik drastis.
Menurut perkiraan, jumlah mereka lebih dari 2,5 juta dari sekitar 13 juta penduduk Moskow—sebuah angka yang membuat Moskow menjadi salah satu ibu kota paling Muslim di Eropa, dan tentu saja “kota Muslim terbesar” di Rusia. Sejak era milenium, tercatat sudah muncul situs-situs baru yang berafiliasi dengan Islam, seperti islam.ru (2000) dan islamnews.ru (2002); penerbit baru Umma (2002) dan stasiun radio podcast Islam (www.radioislam.tv); restoran halal pertama di Moskow, U Rodnika— berdekatan dengan metro Tulskaya (2008); festival fotografi Rusia pertama, “Islam di Rusia” yang diadakan pada 25 Desember 2008 di Moscow’s House of Journalists; dan masih banyak lagi. Selain itu, Moskow juga secara bertahap menjadi salah satu pusat Islam Rusia yang sejajar dan bahkan menyaingi kota-kota lain di Rusia—Kazan, Makhachkala, Ufa atau Grozny. Menurut Luke March, semua ini tidak terlepas dari kebijakan negara yang pro-aktif—sentralisasi kembali para mufti (ahlifatwa) dan semakin pentingnya Dewan Mufti yang berbasis di Moskow sebagai bagian dari kebijakan yang bertujuan untuk mengintegrasikan Muslim secara vertikal (dengan negara).