Malang – Universitas Negeri Malang (UM) melalui UPT Laboratorium Pendidikan Agama menggelar Seminar Agama Hindu dan Dharma Shanti pada Sabtu (11/4) di Aula Lantai 2 Gedung D3 Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Kegiatan ini diikuti 120 peserta dan menjadi momentum strategis untuk mempertegas nilai kebersamaan serta toleransi antar umat beragama di lingkungan kampus.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Raya Nyepi sekaligus agenda rutin Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pendidikan Agama UM. Seminar ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang refleksi kritis bagi sivitas akademika dalam memaknai keberagaman.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. I Nyoman Ruja, S.U., selaku Koordinator Laboratorium Pendidikan Agama Hindu, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan pimpinan universitas dalam pengembangan fasilitas keagamaan.
“Pengembangan fasilitas keagamaan terus kami upayakan, salah satunya melalui Laboratorium Pendidikan Agama Hindu yang saat ini masih dalam proses. Ke depan, kami berharap fasilitas ini dapat menunjang kegiatan pembelajaran dan keagamaan mahasiswa agar lebih optimal, dan semoga pada 2026 bisa selesai,” ujarnya.
Selanjutnya, Wakil Rektor IV UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag. secara resmi membuka kegiatan dan menegaskan pentingnya membangun kebersamaan di lingkungan kampus.
“Semoga kegiatan ini mampu memperkuat kebersamaan seluruh sivitas akademika serta mendorong kontribusi nyata dalam memajukan UM menjadi lebih baik,” tuturnya.
Memasuki sesi inti, dua narasumber kompeten, yakni Dr. Ravinjay Kuckreja, B.A., M.A., dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, serta Prof. Dr. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum., dari UM, memaparkan materi bertema Vasudhaiva Kutumbakam dan pendidikan multikultural.
Dalam pemaparannya, kedua narasumber menekankan bahwa konsep Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti “dunia adalah satu keluarga”, relevan diterapkan dalam kehidupan modern, khususnya di lingkungan kampus yang multikultural. Mereka juga menyoroti praktik nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Bali sebagai contoh konkret penerapan toleransi berbasis budaya dan agama.
Lebih jauh, diskusi mengarah pada pentingnya transformasi nilai toleransi dari sekadar konsep menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa. Hal ini dinilai krusial untuk menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan harmonis.
Melalui kegiatan ini, UM menegaskan komitmennya dalam membangun budaya toleransi yang tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Dengan demikian, nilai kebersamaan diharapkan terus terjaga dan menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan kehidupan kampus yang damai dan produktif.
Sumber: https://um.ac.id/um-jadikan-hari-raya-nyepi-momentum-kuatkan-toleransi/
Pewarta :Shella Ramadhani Zahra – Internship Humas UM
Editor: Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Humas UM
Budi Purwanto – UPT LPA