Konstruksi Moderasi Beragama bagi Generasi Milenial

Mochammad Rizal Ramadhan

Dosen Departemen Bahasa Arab, Universitas Negeri Malang (UM)

Pendahuluan

Berbicara mengenai moderasi beragama seakan tidak pernah ada habisnya, karena dari hari ke hari semakin hangat untuk diperbincangkan. Kaitannya dengan generasi milenial yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa, pemahaman moderasi beragama harus ditanamkan sejak dini agar tidak menjadi paham yang salah bagi mereka.
Karena tidak dapat dipungkiri di tengah berkecamuknya pemahaman dan pola perilaku yang berlebihan dan menganggap dirinya paling benar, sangat diperlukan implementasi moderasi beragama dalam kahidupan sehari-hari. Tetapi sebelum mengimplementasikannya perlu dipahami lebih dulu konsep moderasi beragama dalam Islam secara komprehensif. Pada dasarnya moderasi beragama telah diterapkan oleh para generasi milenial hanya saja perlu diberikan konsepyang jelas agar mereka benar-benar memahami secara utuh. Seperti halnya nilai sosial yang dianut dalam masyarakat terpengaruh oleh budaya pada satu wilayah tertentu. Begitu juga bidang keagamaan yang dalam implementasi pelaksanaan peribadatan pun terdisprusi oleh perkembangan zaman.

Berkaitan dengan sikap moderat yang harus dimiliki setiap muslim, bukan berarti moderat adalah kompromi dengan prinsip-prinsip pokok (ushuliyah) ajaran agama demi bersikap toleransi dengan agama yang lain. Sebagaimana yang disampaikan oleh Mohammad Hashim Kamali yang menyebutkan bahwa moderasi tidak dapat dilepaskan dari dua kata kunci, yaitu: berimbang dan adil. Memang jika tidak ada dua hal tersebut maka moderasi beragama tidak akan berjalan dengan efektif. Selanjutnya, Imam Shamsi Ali telah menyimpulkan makna moderasi beragama adalah komitmen kepada agama dengan apa adanya tanpa ada yang dilebihi ataupun dikurangi. Agama yang dilakukan dengan komitmen dan mempertimbangkan ubudiyah dan ihsan.Dengan demikian semakin jelas bahwa pengarusutamaan moderasi beragama bagi generasi milenial harus diupayakan dan menjadi gerakan yang massif dengansinergi bersama seluruh pihak. Gagasan moderasi beragama juga menjadi daya Tarik bagi kalangan cendekiawan, terbukti dengan adanya seminar nasional bahkan internasional yang menawarkan tema tentang moderasi beragama. Hal yang paling dekat dengan generasi milenial adalah media sosial, dampak yang signifikan bagi perkembangan budaya komunikasi dan interaksi masyarakat di ruang digital terakomodir dengan adanya media sosial. Bagi generasi milenial punbahkan sebagian menganggap eksistensi di dunia maya jauh lebih penting dibanding dunia nyata, karena interaksi di masyarakat tidak lagi hanya di dunia nyata, tetapi dunia maya juga menjadi suatu kebutuhan. Manfaat dan bahayanya menggunakan media sosial dapat kita temukan dengan banyaknya fenomena yang terjadi di masyarakat.