Lelaki Saleh Belum Tentu Menjadi Suami yang Saleh

Dr. Faris Khoirul Anam,Lc., M.H.I.

Dosen Departemen Sastra Arab Fakultas Sastra, UM

 

PENDAHULUAN
Seorang wanita tentu menginginkan seorang lelaki yang saleh sebagai suaminya. Hal ini tentu saja merupakan keinginan yang baik. Akan tetapi, setelah dia menikah dengan seseorang, apakah masih pantas baginya untuk memikirkan lelaki lain sebagai suaminya, bahkan jikmenurut pandangan pribadinya, lelaki tersebut lebih baik dari suaminya? Kita khawatir bahwa perasaan seperti ini dapat membuat seseorang enggan menerima takdirnya, meskipun sebelumnya dia telah berusaha sebaik mungkin. Saya ingin menuliskan inti jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut dalam tulisan ini untuk berbagi dengan
yang lain.  Semoga bermanfaat.

LELAKI SALEH = SUAMI SALEH?
Nabi Muhammad SAW dalam hidupnya sering terlibat dalam aktifitas perjodohan. Banyak riwayat yang menceritakan hal ini, seperti kisah pernikahan Julaibib dan yang lainnya. Setelah memperhatikan tindakan Nabi dan berdasarkan ajaran agama, saya menyimpulkan bahwa tidak semua lelaki yang baik akan menjadi suami yang baik. Dengan kata lain, kebaikan seorang lelaki tidak selalu menjamin bahwa dia akan menjadi suami yang baik. Makna dari “suami saleh” memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan “lelaki saleh.” Seorang “lelaki saleh”adalah seseorang yang dengan konsisten menjalankan perintah Allah dalam segala aspek, baik fisik maupun spiritual. Sebagai contoh, dia rutin menghadiri ibadah di masjid, perilakunya sesuai dengan ajaran agama Islam, dan menjauhi segala yangdiharamkan. Namun, dalam memberikan penilaian tentang siapa lelaki shalih itu, yang bisa kita lakukan hanya dari sisi lahiriahnya. Secara lahiriah seseorang dapat dinilaisebagai orang beragama. Namun bisa saja dia ternyata tipe orang yang mudah marah, sering menghina dan merendahkan orang, ucapannya pahit, dan sebagainya. Hal ini tentu dapat menganggu ketenangan dan kebahagiaan rumah tangga.