Menghindari Food Waste Behavior Melalui Refleksi Ramadan
Prof. Prof. Dr. Muslihati, S.Ag, M.Pd.
Dosen Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan, UM
Pendahuluan
Bulan Ramadan membawa umat Islam pada momentum untuk merefleksikan kehidupan, termasuk pola konsumsi makanan yang lebih bijak. Ramadhan menjadi pengingat untuk tidak hanya memperbanyak ibadah tetapi juga menahan diri dari perilaku berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi makanan. Di Indonesia, fenomena food waste atau perilaku menyia-nyiakan makanan justru semakin meningkat selama Ramadhan. Data menunjukkan bahwa hingga 500 ton makanan terbuang percuma selama bulan suci ini, dengan contoh di Kota Bandung yang menghasilkan sekitar 110 ton sampah makanan setiap harinya selama Ramadan. Ini menandakan ada kebiasaan berlebihan dalam penyajian dan konsumsi makanan, yang tidak sesuai dengan esensi Ramadhan yang mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri.
Peningkatan food waste ini seolah menjadi ironi, mengingat selama Ramadhan umat Islam menahan lapar dan dahaga di siang hari. Seharusnya, kebutuhan makan yang berkurang menjadi alasan untuk menghemat konsumsi dan menghindari pemborosan pangan. Akan tetapi, banyak keluarga yang menyajikan makanan secara berlebihan saat sahur dan buka puasa.