Psikologi Kebahagiaan: Belajar Menggapai Kebermaknaan Hidup

Lilik Nur Kholidah

(Dosen PAI, Sastra Arab FS UM)

 

Dalam kehidupan ini, kebahagiaan menjadi magnit kuat dan menarik bagi manusia untuk memilikinya. Kebahagiaan, juga membangkitkan harapan segenap manusia untuk bersemangat dalam menjalani kehidupan. Kebahagiaan memang bersifat universal. Namun, uniknya parameter kebahagiaan bisa berbeda antara individu satu dengan lainnya. Kebahagiaan dipahami oleh sebagian besar orang sebagai suatu keadaan yang memiliki banyak arti, misal kebahagiaan karena memiliki kendaraan, rumah, pangkat, kebahagiaan karena berhasil menyelesaikan studi, dan sebagainya. Secara etimologi, istilah bahagia menurut KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Sedangkan Kebahagaian adalah ketenteraman atau kesenangan hidup lahir batin. Kebahagiaan sejatinya tidak sebatas tentang apa yang menyenangkan dan kesuksesan dalam hidup berupa pencapaian  yang bersifat fisikal, material, misalnya tentang pangkat, harta. Namun tentang bagaimana dapat mencapai kebermaknaan hidup berbasis nilai-nilai ajaran agama.

Seligman (2004) menyebutkan, agama merupakan salah satu faktor penentukebahagiaan. Agama, memberi pengaruh kepada kehidupan yang religius bagi pemeluknya sehingga berdampak pada munculnya rasa tenang, tentram, puas, bahagia. Hal ini, karena agama dapat memberikan harapan tentang masa depan yang hakiki dan menghadirkan makna dalam hidup bagi manusia. Selain itu, keyakinan beragama yang basicnya landasan keimanan, sangat efektif meningkatkan kebahagiaan, karna adanya keyakinan, harapan terhadap pertolongan dan perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengaruh agama bagi kebahagiaan, dapat dihubungkan dengan esensi orientasinya. Agama berorientasi pada hal-hal yang bernilai baik, mengarah pada makna serta mengarahkan individu untuk menyesuaikan diri dengan dunia di luar struktur makna tertentu. Dalam hal ini, kebaikan memang selaras dengan fitrah manusia yang cenderung menyenangi kebaikan. Allah SWT berfirman dalam al-Qurán surat Ar Rum Ayat 30: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. ltulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”