Kisah Haji

Pelajaran Berharga yang Menampar Jiwa

Di sudut kamar hotel sederhana di dekat tanah haram, Aisyah duduk sambil memandangi tasbih di tangannya. Dari jendela kecil, cahaya lampu kota Makkah masuk samar-samar. Di kejauhan terdengar suara talbiyah bersahutan.
“Labbaikallahumma labbaik…”
Dulu, sebelum berangkat, ia membayangkan haji dengan begitu indah.
Ia sudah menyusun target-target ibadah: khatam Qur’an berkali-kali, thawaf sunnah setiap malam, shalat berlama-lama di depan Ka’bah, sa’i sambil menangis penuh khusyuk, dan sebanyak mungkin duduk di Masjidil Haram untuk dzikir mengingat Allah.
Ia ingin pulang menjadi manusia yang benar- benar baru.

Namun ternyata… Allah menulis cerita yang berbeda.
Hari pertama di Makkah, ketua rombongan berkata pelan,
“Aisyah ya..? Antum sekamar dengan Bu Maryam.”
Aisyah mengangguk biasa saja.
Sampai ia melihat siapa sebenarnya Bu Maryam itu.
Seorang lansia kurus berusia sekitar tujuh puluh lima tahun . Jalannya lambat. Tangannya tremor ringan. Pendengarannya berkurang. Bahkan memakai mukena saja masih perlu dibantu.
“Aduh Nak… tolongin ibu pasang peniti…”
“Nak… kursi roda ibu mana ya…”
“Nak… tunggu ibu, jalannya pelan pelan ya…”
“Nak… temani ibu ke toilet…”

Hari-hari pertama, dada Aisyah mulai terasa sesak.
Setiap kali ia ingin cepat menuju Masjidil Haram untuk mengejar shaf depan, Bu Maryam belum selesai memakai sandal.
Saat jamaah lain sudah berangkat thawaf sunnah, ia masih sibuk mencarikan obat untuk Bu Maryam.
Saat orang-orang mengunggah foto ibadah malam mereka, Aisyah justru memijat kaki lansia itu yang bengkak itu.
Ia mulai menggerutu dalam hati.
“Kenapa harus aku Ya Allah?”
“Aku datang ke sini buat ibadah…”
“Kalau begini terus kapan aku bisa maksimal ibadah di Harom..?”

Bahkan suatu malam, setelah mendorong kursi roda Bu Maryam cukup jauh, ia menangis diam-diam di kamar mandi hotel.
“Aku jauh-jauh datang ke Haromain… tapi waktuku habis hanya untuk begini saja..…”

Hatinya mulai membandingkan.
Melihat jamaah lain bebas beribadah. Bisa duduk lama di depan Ka’bah. Bisa thawaf berkali-kali. Sedangkan dirinya? Seperti “terhalang”.
Sampai suatu malam…
Bu Maryam tertidur lebih awal setelah kelelahan.
Aisyah akhirnya bisa turun sendiri ke Masjidil Haram. Malam itu Ka’bah tampak begitu indah. Lampu-lampu terang. Udara hangat. Orang-orang menangis dalam thawaf mereka.
Namun aneh…
Di depan Ka’bah itu justru hatinya terasa kosong.
Ia duduk lama. Lalu perlahan menangis.
Bukan karena haru.
Tapi karena sadar… selama ini ia sibuk mengejar “ibadah yang ia inginkan”, bukan ridho Allah yang sebenarnya Allah pilihkan.

Kalimat gurunya dulu pun tiba-tiba terngiang:
“Tidak semua jalan menuju Allah dibungkus dengan sajadah panjang dan tangisan di depan Ka’bah. Kadang Allah membuka pintu ridhoNya untukmu lewat jalur lelahnya melayani,lapangnya dadamu, bukan banyaknya tawaf dan sa’i mu.”

Dadanya benar benar terguncang hebat..bergetar.
Ia mulai mengingat kembali: siapa yang setiap malam ia bantu ke kamar mandi… siapa yang selalu mendoakannya dengan tangan gemetar… siapa yang berkali-kali berkata,
“Terima kasih ya Nak… ibu nggak tahu kalau nggak ada kamu gimana ibu di sini…”
Tiba-tiba Aisyah merasa sangat malu.
Ia datang ke Haromain membawa rencana ibadahnya sendiri… tapi kecewa ketika Allah menggantinya dengan skenario-Nya.
Padahal… bukankah inti ubudiyah adalah tunduk taat dan Redho..?
Bukankah haji adalah tentang menanggalkan ego?
Bukankah ihram mengajarkan: “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu… bukan memaksakan kehendakku.”

Malam itu, di depan Ka’bah, ia menangis lama sekali. Menyadari pelajaran berharga dari Allah ta’ala, betapa sayang dan kasihNya…
“Ya Allah… selama ini aku ingin beribadah menurut caraku… padahal Engkau ingin mendidikku dengan cara-Mu…”

Sejak malam itu, sesuatu telah berubah.
Ia tak lagi terburu-buru.
Saat menuntun Bu Maryam berjalan pelan, ia tersenyum.
Saat harus mengalah tidak bisa thawaf sunnah, dadanya lebih lapang.
Saat menyuapi Bu Maryam yang sakit, ia justru merasa sedang dibersihkan hatinya.
Dan anehnya… justru setelah ia ridho, hatinya mulai merasakan ketenangan yang dulu ia cari-cari.
Bukan ketenangan karena banyaknya thawaf ataupun sa’i.
Bukan karena seringnya berdiri di depan Ka’bah.
Tapi karena akhirnya ia belajar menerima ketetapan Allah tanpa melawan dalam hati.

Menjelang pulang ke Indonesia, Bu Maryam menggenggam tangan Aisyah erat sekali.
“Nak… ibu nggak punya apa-apa buat balas kebaikanmu… semoga Allah jadikan hajimu paling diterima…”
Aisyah menunduk. Air matanya jatuh lagi.
Kini ia mengerti…
Ternyata di Haromain, Allah tidak hanya mengajarkan cara berjalan mengelilingi Ka’bah.
Tetapi juga mengajarkan bagaimana hati berputar menanggalkan ego menuju ridho-Nya.

Dan mungkin… di sisi Allah, lapangnya hati menerima takdir lebih berat timbangannya daripada banyaknya langkah thawaf yang dikerjakan dengan hati yang masih penuh dengan tuntutan…

#dari pengalaman nyata penuh hikmah